Friday, December 12, 2008
Jakarta Tempo Doeloe
Buku sederhana ini adalah pembuka gerbang ketertarikanku mengenai sejarah kota Batavia. Buku yang kubeli tahun 1990 bulan agustus dengan harga Rp. 4500 ini adalah terbitan tahun 1988. Diterbitkanoleh Metro Pos Jakarta.
***
Sejalan dengan berjalan nya waktu dan banyaknya referensi tambahan kubaca dan kubeli, ternyata buku ini banyak mengutip dan juga banyak mengambil foto-foto lama dari buku-buku dan sumber yang tak di cantumkan pada daftar bibiliogarfinya. Sumber yang tercatat di daftar bacaan hanya 5 buku, yang paling tua buku jjarboek van Batavia en onsterjken terbitan Batavia 1927 karangan JJ. de Vries. Lalu yang kedua adalah karangan Teo Tek Hong tahun1959 yaitu Kenang-kenangan riwayat hiduo saya dan keadaan di Jakarta dari tahun 1882 sampai sekarang .
***
Tapi pastilah sumber utama foto-foto bersumber buka Perkembangan Kota Jakarta terbitan 1977 yang memuat banyak foto serta lukisan asli dari Johannes Rach 1720-1783, pelukis Belanda yang telah melukis situasi kota Batavia dengan kondisi yang paling menarik dan paling lengkap. Juga seperti kata pengantar dari pernebit bahwa sebagian besar foto di ambil dari sumber buku JJ. de Vries. Dan kisah -kisah pelengkap pasti dari Teo Tek Hong.
***
Karena koleksi foto serta lukisan Batavia dari Perpustakaan nasional Indonesia baru terbit 2001, jadi pastilah Abdul Hakim sang penyusun tidak mendasarkan daftar bacaan dari ini. Sementara foto-foto menjelang abad ke 20 , foto-foto Batavia abad ke 19 juga baru diterbitkan oleh Archpelago Press Singapore tahun dengan penyusun Scott Merrilless tahun 2000 yang sangat comprehensif . Jadi buku Jakarta Tempo Doeloe ini sebetulnya mengutip dari sumber ke dua yang juga telah mengutip dari sumber kedua sebelumnya. Namun sebagai pemula pemerhati sejarah Kota Batavia, tentu buku ini sangat menarik.
***
Label: Sejarah Sosial
Monday, December 8, 2008
Bumi Manusia
Tak perlulah kuceritakan padamu kawan isi , plot serta akhir novel ini, karena kau bisa beli dan juga bisa baca dimana-mana. lagi pula resensi dan perdebatan tanpa ujung novel legendaris ini sudah seperti jajan pasar , di mana-mana , di setiap blog, situs dan juga pusat--pusat dokumentasi. ***
Sengaja aku posting di blog buku ini untuk mengenang sedikit masa-masa gerilya , masa-masa ketika mendengar, membaca ataupun memilikinya apalagi mendiskusikannya akan membuatmu jadi pesakitan rumah prodeo jaman orba. Jadi catatan ini hanyalah sebuah catatan kecil tentang biografi buku ini. Tak ada hubungan dengan semua diskusi ramai di luar sana, yang terkagum-kagum pada Pram selepas jaman reformasi pecah. Hiruk pikuk membaca Pram sebagai sebuah kegiatan selebritas. Lucu dan sekaligus haru.
***
Jangan pula kau terkekeh dan tertawa dengan sampul buku yang kau lihat di sini. Coba kau bandingkan dengan kover terbaru terkini dari Bumi Manusia terbitan Dipantara, maka kau akan bilang adu kasihan banget. Kok foto kopi sih ? Tapi buku kopian yang kau lihat di depan matamu adalah pusaka , juga sekaligus prasasti tentang sebuah masa mencari, mencari sesuatu yang menjadi legenda masa remajaku ketika smp, ketika nama Pram dan karya-karya nya hanya seperti sebuah mimpi besar yang dirindukan tapi tak pernah kulihat batang tubuhnya. Semakin lama, judul serta nama-nama novel Pram menjadi sebuah legenda dan akhirnya menjelma sebuah mitos masa remaja yang kadung sesuatu yang terlarang, yang tersembunyi !
***
Buku ini kubaca pertama kali tahun 1985-bersama dengan buku Anak Semua Bangsa dengan kover depan yang sama- 5 tahun setelah terbit dan di larang oleh orba. Yang kubaca adalah buku asli dengan warna merah putih mirip buku terakhir Rumah Kaca. Buku ini tak bisa dikopi di Jakarta akhirnya dikirim ke Bangka untuk di fotokopi. Jakarta masih cemas dan takut dengan hantu buku ini. Dari mana kudapatkan 2 buku ini tak perlulah aku ceritakan di sini. Yang jelas tahun 1985 aku sudah membaca dua buku pertama Pram. Dan jadilah buku yang kau lihat ini. Aspal !
***
Buku Bumi Manusia yang kau lihat adalah cetakan ketiga tahun 1980, tertulis catakan pertama Agustus 1980, cetakan kedua bulan September 1980 oleh penerbit Hasta Mitra oleh percetakan Ampat Lima Jakarta. Setahun kemudian buku ini di larang oleh Kejagung Jakarta !
***
Buku ini kutawarkan kepada guru smp ku tapi beliau takut dan menolak. Aku maklum posisinya sebagai pegawai negri menjadi riskan bila tahu sedang membaca sebuah buku hantu. Bisa di sel-kan minimal di pecat tanpa pesangan. jadi aku bawa pulang ke Jakarta. Hampir 20 tahun yang lalu. Amboi lama nian, aku menyimpan hantu tuyul jelek ini.
***
Tahun-tahun kemudian setelah selesai mambaca buku ini, sering kali aku ditawari buku yang sama dengan kover asli, sayang sekali aku tak tertarik lagi. Tapi tepatnya disebabkan oleh dana yang terbatas. Masa kuliah aku hanya hanya dapat subsidi Rp. 100 ribu dari kampung, mau beli buku mahal ? Bisa gak makan satu bulan. Harga buku asli -buku seken-sekitar Rp. 79-ribuan, murah ? Ho ho jangan pikir, Tahun 1990-an dollar maish Rp. 2300-. Jadi kau bisa hitunglah berapa harganya dengan kondisi sekarang .
***
Jadi kawan , ini bukan resensi tentang si Minke atau apa hubungan pemikiran Pram dengan Si Minke. Tapi ini sekedar catatan kecil -biografi sebuah buku aneh-buku jelek yang pernah membuat demam Indonesia, hantu tuyul kecil yang membuat Pram jadi kaya raya , dengan sebuah rumah kebon besar di Depok. Jadi pantaslah , Pram menulis hantu, orba dan pejabat orba memeliharanya jadi tuyul, maka jadilah buku jelek yang kau lihat ini !
***
Hanya satu kata buat Pram ...Bravo !!!
Label: Novel
Sunday, December 7, 2008
Di Balik Layar Laskar Pelangi
***
Tak ada yang asing bagiku di buku ini. Film ini seperti di buat untuk orang-orang sepertiku dengan masa kecil yang penuh warna di tanah Bangka Belitong. Walaupun kini lukisan masa kecil itu telah centang perenang oleh tambang rakyat dan juga tambang terbuka pasir kuarsa. Sebuah harta karun yang tak ada tandingannya itu kini hilang dan musnah.
***
Rita Triarna Budiarti telah mencatat adegan demi adegan dan segala pernik yang ada pada saat pembuatan film ini dengan sangat mengesankan . Bahkan ketika kita tak membaca bukunya atau menonton filmnya pun, maka buku ini seperti sebuah film lepas yang layak di tonton dan juga layak mendapat tepukan serta haru airmata.
***
Sejak semula telah kuduga bahwa Harun pasti diperankan oleh seseorang yang memiliki background yang sama . Dan itu adalah Yepri Yanuawar, murid kelas 4 Sekolah Luar Biasa Tanjong Pandang Belitong. Bravo buat Yepri Yanuar !
Label: Buku Film
Subscribe to:
Posts (Atom)
