Thursday, December 18, 2008

Arus Balik

Tak gampang menyelesaikan buku setebal 751 halaman ini. Butuh stamina baca yang betul-betul kuat terjaga. Dan membutuhkan sebuah ketabahan untuk mendaki sampai klimak cerita. Sebuah kisah yang pada awalnya akan membuat kau sulit membalikkan halaman-halamannya disebabkan oleh rumitnya kata-kata dan detailnya Pram berujur lewat tokoh-tokoh utama.
***
Obralan yang pajang dan melelahkan tentang laut dan samudra, seakan Pramoedya ingin mengatakan sambil memamerkan keahlian dan juga pengetahuan serta kemampuannya yang sungguh piawai sebagai penulis kaliber kakap , tiada dua. Luar biasa!
***
Dari kacamata seorang Portugis yang kalah perang dan di tinggalkan bangsanya di Demak lalu melarikan diri ke Paulau Maluku, kisah ini menceritakan tentang Wiranggaleng, dari seorang desa nelayan, lalu tumbuh menjadi seorang senopati Tuban dengan lika-liku intrik kerajaan pada awal abad ke 16. Melibatkan Demak dan Malaka. Sampai Wiranggaleng menjadi Senopati lalu masuk ke dalam hutan dan menjadi rakyat biasa hidup di huma dengan istrinya, Idayu. Anaknya yang tunggal melarikan diri ke Maluku lalu Ternate . Hidup dalam kecewa dan juga hidup dalam kebohongan. Lalu masuk Katolik , mengganti namanya jadi Paulus dan hidup sebagai budak orang Portugis, Gonzalves Mateo. Mengaku telah membunuh Sultan Trenggono musuh bebuyutan ayahnya, Wiranggaleng , tapi ternyata tak mendapatkan pujian. Walaupun pembunuhan terhadap Trenggono adalah hasil perbuatan Jafar sang jurutaman sultan. yang Homo.
***
Yang tak kita ketahui, siapa nama si " Aku " yang menjadi juru cerita kisah tragedi ini ? Yang jelas si Aku adalah orang Portugis. Tentara. Cara dan metode Pramodya berkisah denga mengambil sudut pandang si Aku, mirip dengan buku Rumah Kaca. Lewat Pangemanann , kita di kisahkan akhir hidup yang tragis si Minke. Dan lewat si Aku Portugis, kita juga di kisahkan naik dan jatuhnya si Wiranggaleng sang Senopati.
***
Dalam teknik berkisah , kematangan PAT sudah teruji dan tak dapat lagi kita cari selah sengketa untuk mengatakan kisah dan struktur kisah lemah. Perkembangan tokoh-tokoh utama di kisahkan detail dan sempurna. Kita seperti menyaksikan sebuah panorama sebuah film ketika membaca kalimat-kalimat Pramoedya tentan peperangan , suasana hutan abad ke 16, pertempuran kuda dan juga gajah di tanah Jawa, lalu suasana keributan dan huru-hara di kerajaan , semua tergambar seperti nonton layar cinema. Terstruktur. Dengan plot dan pengadeganan berganda. Namun paralel menuju ke titik konflik . Jelas, berkelas !
***
Background dan latar belakang tanah Jawa abad ke 16 sangat detail dengan tingkah pola dan juga gaya masyarakat Jawa menjelang naiknya bendera Islam setelah Budha kalah bersaing , semua konflik pelan tapi subtil tergambar jelas. Cara mereka makan sirih, melipat kain dan juga gambar-gambar bendera perang, seperti lambang kupu tarung terlukis dengan gambalang. Seakan kau ikut perang ke kancah perang dan hutan belantara lewat tanah Jawa 400 tahun yang silam.
***
Gaya berujar dan cara bicara masyarakat pada masa itu tergambar jelas lewat kata mereka ketika memaki, mengumpat. Pramoedya memang seorang pencacat sosialita yang tiada tara. Bahan kajian sejarah yang menjadi dasar penulisan novel ini tentulah berbuku-buku. Lengkap.
***
Buku yang kubeli bulan Oktober 1995 ini adalah cetakan kedua. Padahal cetakan pertama kalau tak salah juga pada bulan itu juga. Tahun 1995 buku-bukuPAT sudah mulai bisa di beli di toko buku bebas. Walaupun seingatku hanya bisa didapatkan di toko buku Gunung Agung Kwitang saja. Buku ini kudapat setelah berkali-kali bertandang ke sana mencari. Edisi pertama ludes beberapa hari setelah terbit. Sampul tetap sama. Tahun 1995, buku-buku Pramoedya di jual dengan malu-malu, antara takut dan pura-pura tak mengerti oleh toko buku. Bersamaan terbit juga buku-buku cetak ulang, Keluarga Grilya, Blora, Perburuan. Laris manis !
***
Sayang buku Arus Balik ini sudah mulai jarang kulihat di toko buku Gramedia, padahal buku yang lainnya terus di cetak dan di pajang. Edisi baru pernah kulihat yang berwarna biru muda. Dulu harga buku ini sekitar Rp. 78 ribu. Termasuk berharga tinggi.
***
Buku ini yag kubeli tahun 1995 akhirnya kuselesaikan pada pertengahan tahun 1997. Jadi hampir dua tahun novel tebal ini teronggok tak dilanjuti. Baru menjelang pertengahan novel, shadowing mulai memberikan unsur-unsur awal menuju klimak. Sebelumnya membacanya seperti naik gunung. Capek maunya berhenti.Istirahat saja.
***
Membaca Pramoedya , seperti membaca kisah sebuah epos revolusi , selalu ada yang tak dapat kita cernah, selalu ada yang tak dapat kita kunyah. Kalimatnya renyah tapi sulit di telan. Detail sampai kadang kau bosan karena capek mengolah makna. Orang bilang membaca Pramoedya seperti membaca novel biasa. Tapi bagiku tidak. Membaca Pramoedya mirip sebuah ritual olahraga, butuh pemanasan yang cukup, lalu game utama, yang akan membuat kau capek dan lalah, baru setelah terasa tubuh kita - dalam hal ini tentu saja jiwa dan pikiran kita -jadi kian sehat. Ekstasi tapi segar. Karena setiap kata-katanya berkait erat dengan semua paragraf dan semua kalimat yang menghantar kita pada sebuah muara baru. Makna terbuka. Bebas reka. Dengan imbuhan segala macam makna baru dari, oleh dan bagi kau, sang pembaca.
***
Tak ada kata lain selain Bravo buat Pramoedya !